Halo, perkenalkan saya Yohana. Saya belum menikah. Berbicara tentang anak, saya rasa semua perempuan pasti mendambakan sang buah hati hasil dari setiap pernikahannya. Coba bayangkan, bagaimana jadinya jika sebuah pernikahan tidak memiliki keturunan? Ah, pastilah itu menjadi mimpi buruk setiap pasangan terutama bagi sang istri. Pasti, semua kecurigaan akan teruju kepada sang istri. Berbagai spekulasi turut muncul dalam sebuah keluarga. Parahnya, tak hanya datang dari keluarga namun juga dari lingkungan sosial.

Image result for penyakit albino

Sumber 

Kira, begitulah orang memanggilnya (nama saya samarkan). Dia adalah seorang perempuan tepatnya tetangga saya. Dia adalah saksi hidup yang memiliki masalah dengan pasangan hidupnya. Kira sudah pernah menikah namun belum memiliki anak. Setelah suaminya pergi meninggalkannya, dia hidup sendiri. Dia memiliki kehidupan yang lumayan bagus namun Kira memiliki penyakit yang tak biasa yaitu Albino. Albino adalah sejenis penyakit akibat kekurangan pigmen. Perlahan-lahan Kulit akan memutih seperti belang.

Setelah lebih 10 tahun, akhirnya Kira berhasil menikah lagi dengan seorang pemuda kira-kira berumur 35 tahun. Diusia kira yang sudah 38 tahun menikah. Mereka memilih tinggal di rumah Kira sendiri. Tepat setahun menikah namun belum ada tanda-tanda kehamilan. Tentu, hatinya tersakiti. Ada apa dengan saya? Namun, Kira tak menyerah. Berbagai macam pengobatan dia coba mulai dari mengkonsumsi herbal dan lain sebagainya. Yang paling sering dia lakukan adalah terapi urut. Dia berharap besar bisa memberikan keturunan untuk suami tercinta. Karna bagaimanapun, kehadiran sang anak sangat berpengaruh terhadap keluarga kecilnya.

Dua tahun pernikahan juga berlalu. Hasilnya masih sama.Nihil. perlu diketahui, bahwa anak adalah pembawa nama/ marga dalam Adat Batak. Jika sebuah pasangan tidak memiliki anak, si suami berhak untuk mengembalikan istrinya dan menikah lagi. Begitu besarnya dampak anak dalam kehidupan orang batak.

Setiap pagi, Kira selalu berjemur sinar matahari pagi. Katanya, sangat baik untuk kesehatan tulang. Saya tahu betapa berusahanya dia dan semua orang tahu itu. Terkadang dimalam hari, Kira datang sambil menangis karna bertengkar dengan suaminya. Dia kemudian memilih tidur di rumah kami.

“Sabar dan tetaplah berdoa”,  ujar mama saya setiap hari!

Itulah penggalan kata yang keluar dari mulut mama saya. Ya, setiap perempuan pasti menginginkan keturunanya langsung dari rahimnya. Tak ada yang tak bangga menjadi Ibu. Anak adalah karunia dari Tuhan. Jika saat ini belum diberi, mungkin esok hari. Hanya dalam doa lah kita bisa meminta.

Sejak saat itu, dia rajin terapi urut maupun konsultasi ke dokter kandungan. Menurut medis, umur 40 tahun akan susah memiliki keturunan. Dikarenakan tingkat kesuburan yang menurun dan berbagai faktor lainnya. Tak patah semangat, Kira rutin mengatur pola makanan, terapi urut, berjemur dan lainnya. Tak lama kemudian, Dia mengandung. Sungguh tak terkira kebahagiannya. Dia sangat berhati-hati menjaga kandungannya. Dia sering meminta saran kepada ibu-ibu yang sudah memiliki anak, dia meminta tips bagaimana merawat kandungan semasa hamil.

Image result for ibu dan anak perempuan

Sumber

Semakin lama, perut besar itu nampak juga. Kira sering memakai daster. Setelah penantiannya 3 tahun dari pernikahannya, kini penantian dan perjuangannya didengar Tuhan. Sungguh tak terkira ucapan terimakasihnya kepada Tuhan. Semenjak kandungannya bulan ke 7, dia langsung USG dan pergi ke dokter kandungan. Ternyata sang calon bayi adalah bayi perempuan. Sungguh tak terkira kebahagiannya.

Namun, dokter menyarankan supaya operasi, karna sang bayi cukup besar dan beresiko tinggi jika dilakukan persalinan normal. Tak mau ambil resiko, akhirnya Kira menuruti saran dokter untuk melakukan operasi pertama kalinya. Namanya persalinan pertama dan pengalaman pertama, dia tetap merasa takut. Namun, ketakutannya dikalahkan rasa kebahagian yang tiada tara. Bayi mungil nan cantik  itu memegang tangan ibunya. Sekarang, Kira resmi menjadi seorang Ibu. Tangis kebahagian melanda dirinya. Akhirnya perjuangannya selama ini memperoleh hasil. Kira sangat sayang kepada putrinya. Dia tidak pernah membentak ataupun memukulnya. Perasaanya sangat tulus kepada sang anak. Kini, sang anak telah berumur 3 tahun. Kemanapun Kira pergi, dia tidak pernah meninggalkan sang anak. Begitu besarnya kasih ibu kepada anaknya. Ah sungguh tak terbalas memang jasa sang Ibu.

Tak dipungkiri anak adalah titipan Tuhan. Setiap pasangan terutama sang istri pasti berharap memiliki kesempatan untuk memiliki anak. Anak adalah anugrah terbesar dalam hidup manusia. Bayangkan saja, ada yang sudah bertahun-tahun menikah namun belum dikaruniai anak, ada pasangan yang hamil namun tak menginginkan sang anak, ada juga yang memiliki anak namun menyia-nyiakannya. Semuanya itu sudah diatur Tuhan. Intinya, kalau kita diberi anak oleh Tuhan, itu artinya kita harus bertanggungjawab untuk menjaga, mengasuh, mendidik anak tersebut sepenuh hati.

Untuk para perempuan diluar sana, yang mendamba-dambakan sang buah hati atau yang masih berduka akan kepergian anak, mari berdoa kepada Tuhan. Sabar dalam segala pengharapan. Niscahaya, Tuhan pasti mendengar dan mengabulkan doa-doamu yang tulus.

 

Salam,

 

Yohana Siallagan

 

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba #GADianOnasis

 

Akhirnya, Penantian dan Doa ku dijawab Tuhan

Yohana Siallagan


Lulusan Pendidikan bahasa Inggris yang memiliki segudang cita-cita. Interested on writing and reading.


Navigasi pos


9 tanggapan untuk “Akhirnya, Penantian dan Doa ku dijawab Tuhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *