My partner in trip

Traveling itu terkadang datang secara tiba-tiba. Begitulah perjalanan kami kali ini. Tanggal 13 Maret 2017, Saya bersama sahabat saya ingin pergi ke pangururan, sebenarnya perjalanan kali ini ingin menjumpai seseorang namun karna beliau sedang di Urat, maka kami putuskan untuk berjalan-jalan dahulu. Daripada bosan menunggu, lebih baik kami menghabiskan waktu.

Perjalanan pertama, kami mengunjungi Batu Hoda tepatnya di daerah Simanindo. Tepatnya tengah hari, tak banyak yang bisa dilihat disana. Hanya ada beberapa orang yang nongkrong. Pemandangannya biasa saja. Batu hoda ini bisa berpotensi sebagai destinasi wisatawan, namun masih banyak yang perlu dibenahi. Sebenarnya, tidak ada yang spesial dari tempat ini. Kami kanya bisa menemukan batu-batu besar yang tidak terawat dan banyak rumput-rumput liar tumbuh disana-sini. Setelah bosan, kami kembali melanjutkan perjanan.

Sesampainya di Pangururan, kira-kira 40 Km dari kampung saya kami langsung makan siang. Makan siang kali ini, kami hanya memesan mie ayam yang sudah jadi langganan kami beberapa waktu lalu kemudian kami berinisiatif untuk perjalanan ke Pulau Tulas. Untuk ke Pulau Tulas, kami melewati Aek Rangat/ Hot spring yaitu pemandian alam air panas. Kami tidak mampir ke tempat ini karna sudah pernah. Tak mau buang-buang waktu kami langsung tancap gas ke pulau Tulas. Perjalanan melalui bukit. Yang paling saya suka adalah jalannya sangat mulus, baru dibangun. Jujur, saya harus bilang lebih bagus jalan ke bukit daripada di Kabupaten.

Perjalanan kali ini cukup banyak kelokan. Hanya 20 menit dari Aek rangat, kami sampai di Pulau Tulas. Pulau ini adalah salah satu pulau yang berada di tengah-tengah Danau Toba. Sejenak bila diperhatikan, pulau Tulas ini tidak berpenghuni sama sekali. Untuk mencapai Pulau Tulas, tentu harus membutuhkan alat transportasi air yaitu kapal. Kami tidak menyebrang ke pulau Tulas, namun hanya memandangnya dari perbukitan saja. Sekilas, pulau Tulas mirip dengan Pulau Matainara di Maluku. Seperti yang berada di gambar mata uang seribu rupiah.

Suasana di perbukitan sangat menyejukkan hati. Sayangnya awan hitam sudah menggelembung di langit. Kami kemudian melanjutkan perlajanan pulang. Dan benar saja, kami diterpa tetesan hujan dari langit. Tak mau ambil resiko, kami berhenti. Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan. Di sekitar Simanindo, kami kembali makan malam. Setelah selesai, kami kembali melanjutkan perjalanan dan sampai di rumah jam 8 malam.

Badan menggigil karna diterpa hujan. Tak sampai disitu, saya langsung beristirahat. Sungguh perjalanan yang tak terlupakan.

Urgent Trip : Batu Hoda and Pulau Tulas

Yohana Siallagan


Lulusan Pendidikan bahasa Inggris yang memiliki segudang cita-cita. Interested on writing and reading.


Navigasi pos


2 tanggapan untuk “Urgent Trip : Batu Hoda and Pulau Tulas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *