Kemarin, tepatnya jam 10 malam saya sedang asyik membuka album foto zaman SMA. Saya merasa sangat beruntung bisa memiliki teman-teman yang unik dan lucu. Sesekali saya tersenyum memandangi foto. Saya masih ingat betul nama-nama teman sekelas saya dahulu. Masa-masa sekolah adalah masa nano-nano. Ada masa bahagia, indah dan masa duka. Pokoknya, kenangan-kenangan masa SMA saya masih teringat jelas di dalam memori walaupun udah berlalu 5 tahun yang lalu. Berbagai tingkah laku murid seperti nyontek PR dari teman, cabut dari kelas, makan-makan pas belajar, dihukum bersama dan masih banyak tingkah lucu dan kenakalan lainnya yang bikin saya selalu senyum-senyum sendiri bila ingat masa bahagia itu.

Yang paling saya ingat adalah saya dan semua teman sekelas selalu kompak dalam menghadapi guru yang akan mengajar ke kelas. Kami bisa bersikap bercanda terhadap guru bahkan serius sekalipun. Nah, berbicara tentang sosok guru, tentu saya masih ingat betul guru saya. Ada yang garang bak macan, ada yang centil, ada yang keras, ada yang lucu, pokoknya saya kangen jadi anak SMA deh. Sadar atau tidak, tentu sosok guru sangat menentukan masa depan muridnya. Saya sebagai mantan siswa tentunya punya guru yang sama sekali tidak saya suka. Tidak suka karna memberi PR banyak-banyak, selalu ditinggal ketika pelajaran berlangsung. Namun, tidak semua guru seperti itu. Saya juga mempunyai  guru favorit dong.

Tentu saja, guru favorit saya ini saya suka. Biasanya bila gurunya saya suka, otomatis saya juga suka dengan mata pelajarnan yang diajarkan guru tersebut. Ada beberapa alasan kenapa saya menyukai guru tersebut dan membuatnya menjadi guru favorit saya. Yaitu guru tersebut cantik/ ganteng, berwibawa, baik, peduli, memotivasi, dan tidak kasih PR banyak-banyak.

Jujur saja, saya bisa menyukai pelajaran yang awalnya saya benci berubah menjadi suka, tergantung guru yang mengajarkan mata pelajaran tersebut. Sosok guru yang mantap ngajar, baik dan juga gaul bisa menjadi guru favorit saya sekaligus suka mata pelajarannya juga. Sebut saja Guru seni dan budaya, Ibu Sinaga. Bu Sinaga ini adalah sosok ibuguru yang ketje, trendy, dan gaul banget. Beliau tidak segan-segan bergaul dengan murid di dalam kelas, begitupun diluar kelas. Beliau selalu tersenyum dan terkadang menyapa muridnya.

Sosok guru yang gaul inilah yang membuat siapa saja murid tidak canggung ketika belajar di dalam kelas. Biasanya ketika pelajaran seni, para murid akan disuruh menyanyi ke depan kelas, satu per satu loh. Tidak semua murid punya suara yang merdu, seperti saya. Beberapa ada yang kurang. Namun, beliau selalu menyuruh kami untuk bertepuk tangan sebagai apresiasi terhadap teman.

Tak hanya itu, beliau selalu memotivasi para siswa untuk tetap berkarya. Karna prestasi bukan hanya di akademik saja namun juga bisa lewat karya. Pokoknya, selalu berkarya, ucap beliau. Sampai saat ini, beliau masih sama seperti dulu.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Challenge Akademi Pekalongan

Edisi Kangen Guru Favorit

Yohana Siallagan


Lulusan Pendidikan bahasa Inggris yang memiliki segudang cita-cita. Interested on writing and reading.


Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *