Pengalaman menjadi Usher di EVENT Samosir Geopark #RidesinParadise

Pengalaman pertama selalu mengensankan. Mungkin kalimat tersebut cocok dengan pengalaman saya kali ini. Ini adalah pengalaman saya sebagai usher di event Samosir Geopark dengan tema Rides in Paradise. Jadi, event ini untuk mendukung pariwisata Samosir dengan mengadakan event Bersepeda. Sebagai putri daerah, saya diminta untuk menjadi salah satu usher. Sebelumnya saya dan beberapa teman sudah bertemu dengan pak Hendra sebulan yang lalu. Saya menyetujui dan bergabung dengan usher.

Jika sahabat masih bingung, usher itu semacam orang yang membantu event ini. Pernah lihat lomba balapan motor GP? Para pembalap di dampingi oleh wanita cantik. Namun usher bertugas sebagai membantu mempersiapkan segala keperluan para peserta. Nah, event ini adalah untuk Samosir Geopark.

Samosir Geopark

Image result for samosir geopark

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Danau Toba memiliki pesona alam yang indah. Untuk itulah, Samosir menjadi kawasan wisatawan Geopark yang wajib dijaga kelestariannya. Samosir Geopark bertujuan untuk mempromosikan pariwisata Samosir. Potensi kabupaten Samosir ini cukup besar. Mulai dari alam, adat dan budaya khas menjadi daya tarik wisatawan. Untuk itulah, berbagai festival dilakukan. Selama seminggu banyak evnt-event yang dilaksanakan guna menghibur, mempromosikan, bahkan menarik jumlah wisatawan.

Salah satu festival yang cukup besar adalah “Festival Pasir Putih” yang diadakan di Parbaba. Saat ini, pantai Pasir putih menjadi salah satu destinasi terbaik di pulau Samosir. Hamparan pasir putih dengan pemandangan alam menjadi daya tarik untuk liburan bareng keluarga. Festival ini berlangsung mulai pagi hari sampai malam hari dan dikunjungi ribuan orang. Berbagai perlombaan dilaksanakan. Pada malam harinya berbagai hiburan dan atraksi menarik diadakan serta pembagian hadiah yang langsung diserahkan oleh bapak bupati Samosir Rapidin Simbolon. Acara ditutup sampai jam 12 malam hari.

Rides In Paradise

Rides in paradise di panitiai oleh Ikatan Alumni USU dari berbagai daerah. Event ini juga disponsori oleh PT Inalum, PT Pelindo, PT.Pertamina, BNI 46 dan PT PLN. Rides In Paradise artinya menahlukkan surga. Berarti para peserta bersepeda di kawasan Samosir yang telah memiliki semboyan. Samosir, Kepingan surga. Sebenarnya event Rides in Paradise berlangsung selama sehari yaitu tanggal 25 Maret 2016.  Start dari Pangururan dan siikuti oleh kurang dari 80 peserta dengan persentase 99 % kaum adam dan 1 % kaum hawa.

Event ini sudah pernah diadakan sebelumnya yakni di tahun 2014 lalu. Para peserta melakukan riding start pukul 8 pagi. Yang paling menarik adalah para peserta akan kembali melakukan riding dengan rute yang sama pada pukul 14.00 WIB. Tak hanya itu, selain rides in Paradise, event ini juga menampilkan hiburan, beserta lucky draw.

Related image

Sumber

Tepatnya berada di Sitio-tio hotel yang berkawasan si Pangururan. Acara berlangsung sukses dan meriah.

Cerita menjadi usher

Sungguh suatu kehormatan besar bisa menjadi bagian dari event ini. Saya sebagai Putri daerah Samosir mendukung event-event positif yang bertujuan memajukan pariwisata Samosir salah satunya Rides In Paradise. Event ini mengingatkan kita untuk tetap memiliki gaya hidup sehat yaitu dengan cara bersepeda. Namun, yang paling menarik adalah bersepeda mengelilingi Pusuk Buhit dengan rute 46 Km. Jadi, saya menjadi salah satu Usher untuk event ini. Kami para Usher ada 8 orang. 2 diantaranya Putri daerah dan selebihnya dari luar daerah. Tugas dari para usher adalah membantu para peserta dalam mempersiapkan diri untuk event ini. Mulai dari menyambut para tamu maupun peserta, membantu para panitia.

Jadi, untuk pertama kalinya saya bekerja sebagai usher dan menurut saya, ini adalah pekerjaan yang menyasikkan. Kenapa begitu? Bisa dikatakan, para usher bekerja sambil liburan. Pekerjaannya juga cukup santai. Para usher tinggal di Hotel, diberi berbagai Fasilitas, dan di gaji besar. Assyik sekali bukan. Apalagi panitianya sangat baik sekali seperti para panitia Rides In Paradise yang menurut saya super duper baik. Komunikasi serta kerjasama yang baik membuat acara ini sukses. Walaupun kerjanya seharian melayani keperluan para tamu, saya tetap suka pekerjaan ini.

Jadi, pada hari pertama tanggal 24 Maret 2017, saya bertemu dengan 6 usher lainnya yang berasal dari luar daerah. Kami, para usher bertugas di 3 tmpat. Yaitu Wisma Ompurindo, Saulina Ressort, dan Sitio-tio Hotel yang berada di Pangururan. saya beserta 2 usher lainnya menginap di Wisma Ompurindo milik mantan Bupati Samosir, Mangindar Simbolon. Saya dan 2 orang usher lainnya harus berbagi kamar. Bisa bayangkan berbagi tempat tidurkan? Akhirnya, saya memilih tidur di ekstra bed. Tidak apa-apalah. Namun perasaan saya tidak nyenyak malam itu. Mungkin akibat lelah juga kami bertugas menyambut tamu dan menunjukkan kamar. Hari kedua, setelah habis acara, saya menginap di Sitio-tio Hotel. Senangnya hati berbagi kamar bersama 1 usher lainnya. Saya sangat sekali dan akhirnya bisa beristirahat dengan tenang.

Akhirnya, tanggal 26 Maret para peserta bersiap-siap kembali untuk pulang ke kota masing-masing. Begitu juga dengan kami para usher harus berpisah. 3 hari ini sangat bermakna sekali untuk saya. Semoga bisa bertemu dengan kalian dikesempatan lainnya.

***

 

Saya sangat bangga sekaligus berterimakasih kepada para panitia yang membuat event ini. Kami bekerja sangat keras untuk membuat event ini sukses. Sebagai masyarakat Samosir, mari kita dukung event positif lainnya.

 

Urgent Trip : Batu Hoda and Pulau Tulas

My partner in trip

Traveling itu terkadang datang secara tiba-tiba. Begitulah perjalanan kami kali ini. Tanggal 13 Maret 2017, Saya bersama sahabat saya ingin pergi ke pangururan, sebenarnya perjalanan kali ini ingin menjumpai seseorang namun karna beliau sedang di Urat, maka kami putuskan untuk berjalan-jalan dahulu. Daripada bosan menunggu, lebih baik kami menghabiskan waktu.

Perjalanan pertama, kami mengunjungi Batu Hoda tepatnya di daerah Simanindo. Tepatnya tengah hari, tak banyak yang bisa dilihat disana. Hanya ada beberapa orang yang nongkrong. Pemandangannya biasa saja. Batu hoda ini bisa berpotensi sebagai destinasi wisatawan, namun masih banyak yang perlu dibenahi. Sebenarnya, tidak ada yang spesial dari tempat ini. Kami kanya bisa menemukan batu-batu besar yang tidak terawat dan banyak rumput-rumput liar tumbuh disana-sini. Setelah bosan, kami kembali melanjutkan perjanan.

Sesampainya di Pangururan, kira-kira 40 Km dari kampung saya kami langsung makan siang. Makan siang kali ini, kami hanya memesan mie ayam yang sudah jadi langganan kami beberapa waktu lalu kemudian kami berinisiatif untuk perjalanan ke Pulau Tulas. Untuk ke Pulau Tulas, kami melewati Aek Rangat/ Hot spring yaitu pemandian alam air panas. Kami tidak mampir ke tempat ini karna sudah pernah. Tak mau buang-buang waktu kami langsung tancap gas ke pulau Tulas. Perjalanan melalui bukit. Yang paling saya suka adalah jalannya sangat mulus, baru dibangun. Jujur, saya harus bilang lebih bagus jalan ke bukit daripada di Kabupaten.

Perjalanan kali ini cukup banyak kelokan. Hanya 20 menit dari Aek rangat, kami sampai di Pulau Tulas. Pulau ini adalah salah satu pulau yang berada di tengah-tengah Danau Toba. Sejenak bila diperhatikan, pulau Tulas ini tidak berpenghuni sama sekali. Untuk mencapai Pulau Tulas, tentu harus membutuhkan alat transportasi air yaitu kapal. Kami tidak menyebrang ke pulau Tulas, namun hanya memandangnya dari perbukitan saja. Sekilas, pulau Tulas mirip dengan Pulau Matainara di Maluku. Seperti yang berada di gambar mata uang seribu rupiah.

Suasana di perbukitan sangat menyejukkan hati. Sayangnya awan hitam sudah menggelembung di langit. Kami kemudian melanjutkan perlajanan pulang. Dan benar saja, kami diterpa tetesan hujan dari langit. Tak mau ambil resiko, kami berhenti. Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan. Di sekitar Simanindo, kami kembali makan malam. Setelah selesai, kami kembali melanjutkan perjalanan dan sampai di rumah jam 8 malam.

Badan menggigil karna diterpa hujan. Tak sampai disitu, saya langsung beristirahat. Sungguh perjalanan yang tak terlupakan.